Paijo, seorang lelaki berusia 35 tahun, duduk di atas sebuah gerbong kereta yang melaju dari Jakarta menuju kampung halamannya di desa kecil di Jawa Timur. Perjalanan ini bukan hanya sekadar pulang, tetapi juga sebuah perjalanan batin untuk mencari kembali jati dirinya. Sudah hampir 15 tahun ia meninggalkan desa untuk mencari peruntungan di ibu kota. Namun, kota besar itu hanya memberikan kenangan pahit dan kekecewaan yang mendalam.
Saat kereta melintasi sawah-sawah hijau yang luas, Paijo teringat masa kecilnya. Betapa indahnya masa itu, saat ia bermain di tengah hamparan padi bersama sahabat karibnya, Paimen. Mereka berdua seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Namun, nasib memisahkan mereka ketika Paijo memutuskan merantau ke Jakarta.
Paijo merogoh kantongnya dan mengeluarkan sepucuk surat yang sudah lusuh. Surat dari Paimen, sahabatnya yang kini menjadi kepala desa. Surat itulah yang membuat Paijo memutuskan untuk pulang. Surat yang penuh dengan kerinduan dan harapan.
Setibanya di desa, Paijo disambut oleh suasana yang begitu berbeda. Desa yang dulu penuh dengan keceriaan kini tampak suram dan sunyi. Banyak rumah yang kosong, ladang yang tak terurus, dan penduduk yang terlihat lelah. Paijo merasa ada yang hilang, ada yang berubah dari desanya.
Di ujung jalan, ia melihat Paimen berdiri menunggunya. Paimen masih sama seperti yang Paijo ingat, namun dengan garis wajah yang lebih tegas dan mata yang menyimpan banyak cerita. Mereka berdua berpelukan erat, menghapus jarak dan waktu yang memisahkan.
"Kamu sudah pulang, Jo," kata Paimen dengan suara serak.
"Ya, Men. Aku pulang," jawab Paijo.